Sumatera Utara Unjuk Gigi

Saya lahir dan besar di Medan, Sumatera Utara. Setidaknya sampai umur 18 tahun. Setelah itu saya merantau ke Bandung, Australia, Jakarta, Dumai dan sekarang lebih banyak di Bandung.

Dulu setiap liburan sekolah orang tua saya mengajak saya ke Jakarta, Bandung atau Bali. Karena jaman itu Medan bisa dikatakan tidak punya banyak tempat tujuan untuk berlibur. 

Hanya Berastagi di daerah pegunungan dan Danau Toba yang tentu saja sudah sering kami kunjungi. Dari tahun ke tahun kedua tempat ini tidak ada perkembangannya, hanya begitu-begitu saja. Tidak hanya sektor pariwisata, sektor lainpun sangat lambat pertumbuhannya. 

Ini yang membuat orang Sumatera Utara banyak yang merantau ke pulau Jawa terutama Jakarta, termasuk saya, karena minimnya lapangan pekerjaan di kampung halaman sedangkan jumlah penduduk terus bertambah. Yang kaya orangnya itu-itu saja, pengusaha perkebunan atau pejabat.

 Kebanyakan orang kayanya justru membeli asset di Jakarta, Bandung hingga Singapura. Ini juga menjadi faktor yang memperlambat pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara.

Sumatera Utara merupakan provinsi yang kaya akan hasil bumi seperti perkebunan, pertanian, pertambangan hingga pariwisata. Bahkan perdagangan rempah dari Barus sudah dikenal berabad-abad yang lalu. Sayangnya infrastruktur yang jauh dari cukup membuat banyak pemodal enggan berinvestasi.

Tapi sekarang berbeda. Inilah saatnya Sumatera Utara berlari kencang. Pemerintah Pusat kali ini memberi perhatian yang luar biasa. Pembangunan di Sumatera Utara bukan sekedar ‘biar ada’ saja, tapi benar-benar serius. Seperti mengejar ketertinggalan selama puluhan tahun Pemerintah melakukan pembangunan di seluruh pelosok Sumatera Utara. 

Jokowi belum satu periode menjabat sebagai Presiden tapi pembangunan mulai dari jalan tol, pelabuhan, bandar udara hingga pariwisata sudah berjalan. Semua dipantau langsung secara rutin oleh Presiden Jokowi. Saya tahu, Pemerintah juga melakukan hal yang serupa di provinsi-provinsi lainnya bahkan sampai daerah perbatasan atau daerah terluar negeri ini. Tapi di sini saya mau cerita pembangunan di Sumatera Utara saja dulu.

Tol Belmera (Belawan-Medan-Tanjung Morawa) sepanjang 34,4 km yang selesai dibangun tahun 1986 adalah satu-satunya jalan tol pertama di Medan, bahkan di seluruh pulau Sumatera, dari Aceh hingga Lampung kala itu. Kasihan ya? Setelah 30 tahun lebih barulah dilakukan lagi pembangunan jalan tol Medan – Kuala Namu – Tebing Tinggi sepanjang 61,8 km! Hampir 2 kali lipat. Tol ini sudah dapat digunakan sebelum Lebaran tahun 2017.

 Tidak sampai disitu, jalan tol Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Kuala Tanjung – Parapat total sepanjang 143,5 km sedang dalam pengerjaan yang akan terkoneksi dengan tol Binjai – Medan – Tebing Tinggi yang juga sudah mulai dikerjakan dan ditarget selesai tahun 2019. Disamping itu saat ini jalan lingkar Danau Toba sudah diambil alih Pemerintah Pusat dan dinyatakan sebagai jalan nasional yang artinya dilakukan pembenahan seperti pelebaran dan lain – lain. Mantap!

Pelabuhan Kuala Tanjung berskala internasional dengan luas ribuan hektar dan menelan biaya 34 triliun (sampai tahap 3) sedang dalam pengerjaan. Terbagi dalam 4 tahap. Tahap 1 sudah rampung 60% dan tahap 2 ditarget selesai 2019.
Belum lagi bandar udara yang terus dikembangkan seperti Silangit dan Sibisa.
Wah, Sumatera Utara kali ini benar-benar unjuk gigi.

Kamu yang belum pernah ke Danau Toba segera jadwalkan perjalanan kamu untuk pergi ke sana. Dijamin kamu akan takjub. Berlokasi 3-4 jam dari kota Medan, tapi setelah tol selesai dapat ditempuh dengan 1,5 – 2 jam. Sangkin luasnya danau ini meliputi 7 kabupaten. Hampir seluas Singapura! Danau yang begitu indah selama ini tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat.
Di era Jokowi beliau membentuk Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Kementrian Pariwisata menarget 1 juta kunjungan wisata ke Danau Toba pada 2019.



Mati lampu, hal yang paling menjengkelkan bukan? Di Medan, hampir setiap rumah tangga punya genset. Mati lampu rata – rata 4-8 jam sehari sudah bukan hal baru. Keluarga saya bahkan sudah punya genset sejak tahun 1986. Medan itu umurnya sudah lebih 4 abad, kota ke tiga terbesar di Indonesia, tapi pemadaman listrik bergilir seperti tidak ada habisnya.

21 Mei 2017 kapal listrik dari Turki yang berkekuatan 240 MW tiba di Medan dan akan beroperasi Juni 2017. Ini salah satu dari 4 kapal listrik yang tiba di Indonesia. Disewa oleh PLN selama 5 tahun. Diharapkan PLN dapat membenahi pasokan listrik untuk Medan selama masa penyewaan itu.
Heran, kenapa tidak dari dulu ya?

Saya mendukung Jokowi? Pastilah. Mana ada orang yang tidak senang kampung halamannya dibangun. Saya tidak kenal beliau secara pribadi, terlalu jauh, saya cuma rakyat biasa, tapi saya berhak membanggakan hasil karyanya. Data singkat di atas adalah fakta, bukan mengada-ada. Saya justru heran melihat orang yang masih nyinyir kepada Jokowi padahal dia juga ikut menikmati hasil pembangunan yang dicanangkan Presiden.

Yang lebih meyakinkan adalah Jokowi terus memantau langsung pembangunan yang sedang dikerjakan. Tentu saja ini sangat berpengaruh pada pelaksanaannya.
Saya yakin kalau Jokowi tidak terpilih untuk periode ke dua yang paling kecewa adalah rakyat di luar pulau Jawa. Cukuplah selama ini Pemerintah Pusat hanya memperhatikan pulau Jawa. Toh saat ini pulau Jawa pembangunannya tetap berjalan juga. Pembangunan sekarang bukan Jawa sentris lagi, tapi Indonesia sentris.

Motto Presiden Jokowi ‘Kerja, Kerja, Kerja’ sudah terbukti bukan? Belum pernah ada pembangunan infrastruktur sebesar ini yang dilakukan secara serentak sepanjang sejarah Indonesia. Belum pernah. Ini akan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara signifikan terutama di luar pulau Jawa.

Sekarang merupakan tugas kitalah mendukung pembangunan negeri kita sendiri. Dengan tidak korupsi, taat pajak dan tidak merecoki Pemerintah dengan hal – hal yang tidak jelas merupakan dukungan yang nyata.

Melihat pembangunan dimana-mana saat ini rasanya tidak ada alasan untuk tidak mendukung Jokowi tetap memimpin negeri ini untuk periode 2019-2024 agar pembangunan negeri ini dapat terus melaju kencang.

Bukankah ini yang kita inginkan dari dulu? Karena kita sudah sangat tertinggal dari negara-negara lain bahkan negara tetanggalah yang dulu justru belajar dari kita.
Kita sudah lihat secara nyata kalau kita bisa, kita mampu, hanya kita mau apa tidak, itu saja.
Ini saatnya kita mengejar ketertinggalan kita.
Ini saatnya kita berlari kencang.
Untuk Indonesia yang lebih baik.

Kita Indonesia!
Kita Pancasila!

#JokowiUntukIndonesia




Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita terpercaya yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih :)

Populer