Rekrut Preman Jadi Debt Collector, Sandi Menyelesaikan Masalah Atau Malah Menambah Masalah

Gagasan Sandi untuk menjadikan preman sebagai debt collector bukan sekali ini saja diutarakan, tetapi pada bulan April yang lalu juga Sandi juga mengusulkan preman Kalijodo dijadikan debt collector. Dan baru-baru ini Sandi juga mengutarakan hal yang sama, Sandi tetap mengusulkan agar preman-preman direkrut oleh perusahaan-perusahaan keuangan dan dijadikan sebagai debt collector.

“Jadi mereka kan bisa bikin perusahaan security, bisa dijadikan ikut di perusahaan credit card jadi debt collector, atau bisa jadi pengamanan, karena mereka kan jago-jago,” ujar Sandiaga di Tangsel, ketika mengomentari tentang parkir liar di RPTRA Kalijodo beberapa bulan yang lalu.

“Sebenarnya preman-preman ini kalau direkrut oleh perusahaan -perusahaan keuangan sebagai debt collector (penagih utang) sangat layak,” ujar Sandi, di Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (1/6/2017).

Apakah gagasan dari Sandi ini adalah sebuah gagasan yang cemerlang ataukah sebuah gagasan yang malah akan menjadi blunder bagi perusahaan keuangan? Karena kita tahu bahwa peringai dari debt collector ketika menagih utang kepada nasabahnya tidak memakai cara-cara yang sopan, tetapi melalui cara-cara intimidasi dan kekerasan.

Kita masih ingat tentang kematian Irzen Octa (56), nasabah kartu kredit salah satu bank di Jakarta, karena lalai membayar tagihan kartu kredit, Irzen Octa kemudian dianiaya oleh debt collector bank tersebut, yaitu A,H dan D, hingga menyebabkan Irzen Octa stroke dan meninggal dunia.

Korban sengaja datang ke Citibank Cabang Menara Jamsostek, Jalan Gatot Subroto, Mampang Prapatan, untuk mengklarifikasi tagihan kartu kreditnya. Namun, dari penyelidikan sementara, korban justru dibawa ke ruang negosiasi. Di ruang ini diduga korban mendapat siksaan psikis sehingga pembuluh darah otaknya pecah,” kata Kepala Satreskrim Polres Metro Jaksel Ajun Komisaris Besar Budi Irawan (31/3/11).

Baru-baru ini juga kejadian sebuah perusahaan leasing digeruduk massa karena debt collectornya menyebabkan kematian seorang pengendara sepeda motor.

Kelompok massa mendatangi kantor tersebut lantaran kesal dengan upaya penarikan oleh orang yang diduga petugas penagihan. Mereka menuding tindakan oknum debt collector mengakibatkan sang pemilik sepeda motor, Rojak (15), meninggal dunia.

“Jadi pada saat itu nasabah (Rojak) berboncengan dengan Jajang, dikejar-kejar petugas debt collector. Kendaraan sepeda motor yang ditumpangi nasabah terjatuh hingga meninggal dan Jajang terluka,” tutur Saefullah.

Ada sebuah kasus juga menimpa sebuah bank asing berasal dari Inggris, dimana karena aksi teror dan intimidasi dari debt collectornya kepada seorang nasabah KTA yang bernama Victoria SB, kejadian tahun 2009 yang menimpa Victoria ini akhirnya harus berakhir di pengadilan. Bahkan sampai ke tingkat MA. Karena tidak tahan dengan intimidasi dan teror dari debt collector bank tersebut, akhirnya Victoria melayangkan gugatan ke pengadilan. PN Jaksel akhirnya mengabulkan gugatan Victoria, walau pun hanya Rp.10 juta dari gugatannya sebesar Rp. 5 milyar. Tidak terima dengan keputusan dari PN Jaksel yang memenangkan Victoria, Bank tersebut mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI, bukannya menang, bank tersebut justru harus mengeluarkan dana sebesar Rp.500 juta. Tidak puas dengan keputusan PT DKI, bank tersebut mencoba mengajukan kasasi ke MA. Tapi sial bagi bank tersebut, MA justru melipatkan gandakan kerugian yang harus dibayarkan kepada Victoria dari Rp.500 juta menjadi Rp.1 milyar.

Tentu masih banyak lagi tindakan-tindakan tidak terpuji dari debt collector ketika menagih secara paksa kepada nasabah yang menunggak cicilan kredit. Dari intimidasi, perampasan harta benda, ancaman bahkan siksaan terus dilakukan demi untuk dapat menagih tunggakan nasabah. Mereka lakukan semua itu tanpa perikemanusiaan. Alasan mereka, mereka hanya menjalankan tugas yang diberikan kantor, tanpa melihat kondisi dari nasabah yang mereka tagih.

Dan kini Sandi justru mengusulkan agar preman-preman tersebut direkrut untuk dijadikan sebagai debt collector. Bisakah anda membayangkan apa yang akan terjadi kepada nasabah yang menunggak cicilan kredit? Apakah mereka akan melakukan tagihan utang tersebut dengan cara yang lemah lembut penuh perasaan? Apakah mereka akan melakukannya dengan sopan santun? Saya rasa mereka tidak akan melakukannya. Mereka justru akan melakukannya dengan gaya premanisme yang selama ini mereka terapkan.

Jika ini yang terjadi, apakah gagasan dari Sandi ini akan menyelesaikan masalah yang ada? Ataukah justru akan menambah masalah baru lagi?




Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita terpercaya yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih :)

Populer