Anies Baswedan Ceritakan Kisah Kakeknya Bawa Surat Kedaulatan RI dari Mesir ke Yogyakarta

Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan berbagi kisah perjuangan kakeknya, Abdurrahman Baswedan, saat beliau membawa surat pengakuan kedaulatan RI dari Mesir ke Jakarta.

Cerita Anies ini melengkapi serangkaian peristiwa sejarah diplomasi pertama RI di Mesir pada tahun 1947, yang ditulis secara apik di oleh Haris Priyatna dalam novel berjudul The Grand Old Man.

Anies menceritakan mengenai perjuangan kakeknya dalam membawa surat hasil diplomasi, terkait pengakuan kedaulatan Negara Republik Indonesia dari Mesir menuju Yogya.

"Kakek saya cuma dipesani, kamu tidak sampai tidak apa-apa, yang penting surat ini sampai tangan Presiden," terang Anies.

Saat itu Abdurrahman tak memiliki banyak biaya untuk pulang dari Mesir ke Jakarta. Bahkan beliau sampai harus terhenti di Singapura. Beruntung dia dibantu para simpatisan kemerdekaan Indonesia, sehingga dapat melanjutkan terbang sampai di Jakarta.

Anies menceritakan sisi lain dalam perjalanan kakeknya ini, saat sampai di Bandara Kemayoran Jakarta.

"Untuk menghindari pemeriksaan bandara, beliau memasukkan surat tersebut ke dalam kaus kakinya, sehingga lolos pemeriksaan," papar inisiator Indonesia Mengajar itu.

Lolosnya surat itu dalam pemeriksaan bandara berlanjut hingga surat pengakuan kedaulatan itu diserahkan kepada Bung Karno di Yogya, serta mengawali pengakuan pertama Indonesia sebagai negara oleh dunia.

"Setelah diserahkan ke Bung Karno, maka lengkaplah pengakuan de jure dan de facto indonesia," ucap Anies.

Abdurrahman Baswedan menjadi salah satu anggota delegasi Indonesia ke Mesir yang dipimpin oleh Haji Agus Salim di awal kemerdekaan RI.

Selanjutnya, Anies menyampaikan rasa apresiasinya kepada penulis, karena mampu memproses peristiwa sejarah ke dalam bentuk novel.

"Saya apresiasi gagasan menuliskan peristiwa sejarah dalam format novel, sehingga membuat imajinasi kita berkembang dengan era sekarang," tutur Anies dalam peluncuran buku The Grand Old Man di Keraton Kafe, Jakarta Selatan, Kamis (1/6/2017).

Mantan Mendikbud itu juga secara pribadi mengaku mengagumi sosok Agus Salim sebagai tokoh penting dalam novel itu, apalagi beliau adalah pahlawan yang berjuang dengan kata-kata dalam berdiplomasi.

"Jangan pernah remehkan kata-kata, karena Agus Salim hebat dalam ide dan kata-kata," pesan Anies. (*)





Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita terpercaya yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih :)

Populer