Ahok Kalah Pilkada DKI, Geliat Warung-warung Bir Bertebaran di Kolong Tol Kalijodo

Denyut kehidupan malam mulai bergeliat di sekitar kawasan Kalijodo, Jakarta Barat. Warung-warung semi permanen dengan lampu yang temaram menjajakan minuman bir kepada pelanggan yang datang.

Warung-warung dengan lampu temaram berdiri di bawah tol di Kalijodo.Warung-warung dengan lampu temaram berdiri di bawah tol di Kalijodo. 


Warung-warung dengan lampu temaram berdiri di bawah tol di Kalijodo.

Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom

Deretan warung itu berada di Jalan Kepanduan 1, tepatnya di bawah kolong Tol Pluit (Jakarta Inner Ring Road) sebelah barat RPTRA Kalijodo.

Pantauan detikcom, pada Selasa 30 Mei 2017 malam, salah satu warung berada sekitar lima meter dari pinggir jalan. Untuk menuju lokasi itu, harus melintasi jalan tanah yang menurun.

Warung semi permanen ini menjual makanan dan minuman termasuk bir kepada pengunjung yang datang.Warung semi permanen ini menjual makanan dan minuman termasuk bir kepada pengunjung yang datang. 

Warung semi permanen ini menjual makanan dan minuman termasuk bir kepada pengunjung yang datang.
Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom

Warung tersebut terbuat dari tripleks beralas lantai. Hanya satu lampu penerangan lima watt berwarna hijau menerangi pelataran warung.

Ada dua dari empat meja yang disediakan telah terisi oleh tamu. Meski terdapat kopi dan minuman ringan, dua meja diisi oleh beberapa botol bir. Harga satu botol bir besar dihargai Rp 60.000.

Minuman bir dibandrol dengan harga Rp 60 ribu per botol.Minuman bir dibandrol dengan harga Rp 60 ribu per botol.

Minuman bir dibandrol dengan harga Rp 60 ribu per botol.
 Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom
Setelah memesan minum, ada pelayan perempuan yang menemani sambil berbincang-bincang. Dia adalah Wati, perempuan asal Indramayu yang tidak lama merantau ke Jakarta.

"Saya baru tiga bulan datang ke Jakarta. Kos di Kedoya. Jadi tidak merasakan di sana (Kalijodo sebelum dibongkar untuk RPTRA pada awal 2016)," cerita Wati di warung tersebut.

Wati bukanlah pemilik warung tersebut. Demikian pula dengan segerombolan lelaki yang duduk di salah satu meja. "Bos jarang ke sini," ucap Wati.

Wati mengeluh tamu yang datang pada malam itu sepi. "Pas hari pertama atau kedua puasa itu banyak," kata dia.

Suasana sepinya malam membuat Wati memainkan lagu dari ponsel pintar miliknya. Memang, kondisi sepi terasa di kolong tol. Tidak ada dentuman musik keras seperti pada diskotek-diskotek, atau klub malam.

Menurut Wati, warung ini berdiri dua minggu terakhir. "Katanya sebelumnya pernah dibongkar terus dibikin lagi," kata Wati.

Tanpa malu-malu, Wati dan beberapa perempuan di sekitar warung menjajakan diri. Tindakan tersebut dilakukan di dalam warung yang memang sudah tersedia kamar. "Ngamar dulu, yuk," ajak Wati kepada salah satu pelanggan sambil memegang tangannya.


Berulang Kali Digusur

Warung-warung hanya sebagian kecil bangunan semi permanen di kolong tol tersebut. Terdapat rumah-rumah semi permanen atau biasa disebut bedeng.

Jika siang hari akan nampak aktivitas di bawah tol. Ada masyarakat yang beristirahat atau membuat bangunan semi permanen baru.

Bangunan tersebut tumbuh cepat setelah dilakukan penggusuran beberapa kali. Bahkan, saat Kalijodo digusur pada awal 2016, kolong tol pun digusur.

Rumah bedeng mulai tumbuh subur di bawah tol di Kalijodo. Padahal, petugas sudah berulang kali menggusurnya.Rumah bedeng mulai 'tumbuh subur' di bawah tol di Kalijodo. Padahal, petugas sudah berulang kali menggusurnya.

Rumah bedeng mulai tumbuh subur di bawah tol di Kalijodo. Padahal, petugas sudah berulang kali menggusurnya.
 Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom

"Sebelum pemilu (pernah digusur). Terus habis pemilu ada lagi. Tapi cepat dia bangunnya. Namanya juga bedeng-bedeng begitu," kata Camat Penjaringan, Jakarta Utara, Mohammad Andri, saat dihubungi detikcom, Selasa (30/5/2017).

Andri mengatakan penggusuran akan kembali dilakukan. Tetapi, pihaknya harus membagi-bagi konsentrasi penjagaan. "Kami kan terlalu banyak titik yang diamankan. Kalijodo 24 jam terus Waduk Pluit. Saya, tingkat kota, provinsi, sudah turun. Itu berkali-kali (penertiban)," ucap Andri.

Andri menilai solusi yang paling pas adalah memanfaatkan lokasi dibawah kolong tol tersebut. Aset di kolong tol merupakan kepemilikan dari pengelola tol Jasa Marga. "Kita minta Jasa Marga mengggunakan untuk apa. Kuliner atau lahan parkir. Dia keluarin lah biayanya," tutur Andri. detik.com
(On / FJP)




Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita terpercaya yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih :)

Populer