Waduh, Netizen Dihebohkan dengan Ramalan Mbah Mijan Soal Hujan Air Mata di Juli 2017, Ada Apa?

Paranormal Tanah Air, Mbah Mija memang sangat aktif di media sosial.

Ia kerap menuliskan ramalan tentang beberapa selebrita dan kejadian yang terjadi di Tanah Air.

Beberapa ramalan Mabh Mijan memang diakui tidak pernah meleset.

Baru-baru ini, ia kembali membuat heboh netizen soal ramalannya.

Melansir dari Instagram @mbahmijan, tim TribunStyle.com mendapati ramalan menghebohkan itu.

Mbah Mijan mengunggah screen capture twitternya yang diposting kembali di Instagram pada Kamis, (23/3/2017).


Dalam unggahan tiu, Mbah Mijan meprediksi kejadian yang akan terjadi di Tanah Air pada bulan Juli mendatang.

ia mengungkapkan jika pada Juli 2017 nanti akan ada hujan air mata.

“Ada apa di bukan Juli 2017, hujan air mata, jangan! janganlah terjadi ya Allah ya Tuhan penguasa alam semesta dan umatNya, Amiin,” tulis Mbah Mijan pada prediksinya itu.

Tak pelak unggahan Mbah Mijan itu pun langsung membuat heboh netizen.

Netizen pun penasaran dengan apa yang akan terjadi pada Juli mendatang.

Mereka juga merasa takut dan panik menanggapai prediksi dari Mbah Mijan.

ratuberlianabalqis : “;( ada apa gerangan..ya allah smoga jng ada bencana alam smoga d jaga bumi pertiwi ini ya allah aminnn.(klo ini menyangkut alam)tp kalo menyangkut artis apapun itu mungkin yg terbaik!”

durrotus.saadah : “Ada pa mbah…kepo.”

finiefendy380 : “Aduuh mbah jdi penasaran@mbahmijan.”

erni_puspaa : “Ada apa.. bencana kah..? Saya takut.”

alice_charoline : “Ad apa an ea @mbahmijan ?? Jd penasaran..semoga az gx ad ap ap sm keluaga ku,berharap sich air mata kebahagiaan,spa tau allah akan mengangkat derajat keluarga ku..amin..”

Tak hanya itu, sebagian netizen juga menghubungan dengan isu perselingkuhan Ayu Ting Ting – Raffi Ahmad, dan juga kesehatan Julia Perez

mamiimenonk : “Bencana alam, jupe atau gigi rafi.”

syashynta_syam : “Jnagan bilang ini mba jupe.”

riabzee : “Bodo amat sama Raffi Nagita Att, gak kelar2 ngurusin masalah itu Mulu.. yg aku takutin itu bencana alam atau kehilangan seseorang yg kita cintai..”

Bener-bener Ya Istri Ahok Ini, ‘Anging Mamiri’ Melalui Gesekan Cello Veronica Tan Bikin Merinding!

Pantas saja netizen menyebutnya wanita multi talenta. Veronica Tan benar-benar memesona.

Istri Ahok ini kembali bikin netizen kagum dengan kepiawaiannya memainkan alat musik Cello.

Kali ini Vero tak sendiri. Diiringi Komposer handal Adie MS bersama Twilite Orchestra, Veronica menunjukan kemampuannya memainkan lagu daerah asal Sulawesi Selatan ‘Anging Mamiri’ melalui petikan Cello nya.

Indahnya lantunan lagu ini membuat merinding dan tuai pujian luar biasa netizen.

Melalui akun Instagramnya, Vero memosting penampilan memukaunya tersebut.

@veronicabtp Terimakasih banyak Mas @addiems999 buat kesempatannya, senang sekali bisa bermain bersama teman-teman dari Twilite Orchestra dengan conductor mas Addie MS.

@veronicabtp Abaikan wajah tegang saya, bermain dengan group orchestra terbaik di Indonesia tentu saja akan membuat wajah setiap orang setegang ini…Ini suasana kemarin ketika bermain bersama Twilite Orchestra dibawah pimpinan mas Addie MS.

Berikut komentar mengejutkan netizen.

lennyhongling Bu Vero serba bisa yaaa, supermom bangeet

marcelles_caryabudi Ibu gubernur yang langka

veramora37 Klo ada upacara kenegaraan ibu @veronicabtp bs ikt serta donk heheheeee

dewinta1981 wooow….. keren bu…. sampai merinding liatnya

bundaqoe Tegang banget bu Vero…tp sy ikut bangga meski bukan ibu gubernur sy….*ibu gub.sy siapa ya….yg manaaa….!! Semoga ibu Vero ntar jadi ibu negara saya….aamiin !!

ratunmfi buuuu kerennn bgttt @veronicabtp

Ahmad Ishomudin Difitnah Sebut Surat Al Maidah 51 tidak Berlaku Lagi atau 'Expired'. Begini Klarifikasinya

TABAYYUN SETELAH SIDANG KE-15 KASUS PENODAAN AGAMA

Beberapa waktu lalu saya diminta oleh penasehat hukum bapak BTP (Ahok) untuk menjadi saksi ahli atas kasus penodaan agama yang didakwakan kepadanya. Penasehat hukum dalam UU Advokat juga termasuk penegak hukum di negara konstitusi Republik Indonesia, sebagaimana dewan hakim dan para JPU (Jaksa Penuntut Umum). Karena kesadaran hukumlah saya bersedia hadir dan menjadi saksi ahli dalam sidang ke-15.

Saya menyadari betul dan sudah siap mental menghadapi resiko apa pun, termasuk mempertaruhkan jabatan saya yang sejak dulu saya tidak pernah memintanya, yakni baik sebagai Rais Syuriah PBNU (periode 2010-2015 dan 2015-2020) maupun Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2015-2020), demi turut serta menegakkan keadilan itu. Sebab, sepertinya umat Islam sudah lelah dan kehabisan energi karena terlalu lama mempersengketakan kasus pak BTP (Ahok). Sebagian umat yakin ia pasti bersalah dan sebagian lagi menyatakan belum tentu bersalah menistakan Qs. al-Maidah ayat 51.

Oleh sebab itu, persengketaan dan perselisihan tersebut segera diselesaikan di pengadilan, agar di negara hukum kita tidak memutuskan hukum sendiri-sendiri. Saya hadir, sekali lagi saya nyatakan, di persidangan karena diminta dan karena ingin turut serta terlibat untuk menyelesaikan konflik seadil-adilnya di hadapan dewan hakim yang terhormat.

Saya hadir di persidangan bukan atas nama PBNU, MUI, maupun IAIN Raden Intan Lampung, melainkan sebagai pribadi. Tidak mewakili PBNU dan MUI karena sudah ada yang mewakilinya. Saya bersedia menjadi saksi ahli pada saat banyak orang yang diminta menjadi saksi ahli pihak pak BTP berpikir-pikir ulang dan merasa takut ancaman demi menegakkan keadilan. Dalam hal ini saya berupaya menolong para hakim agar tidak menjatuhkan vonis kepadanya secara tidak adil (zalim), yakni menghukum orang yang tidak bersalah dan membebaskan orang yang salah. Tentu karena saya juga berharap agar seluruh rakyat Indonesia tenang dan tidak terus menerus gaduh apa pun alasannya hingga vonis dewan hakim diberlakukan. Rakyat harus menerima keputusan hakim agar tidak ada lagi anak bangsa ini main hakim sendiri di negara hukum.

Saya hadir sebagai saksi ahli agama karena dinilai ahli oleh para penasehat hukum terdakwa, dan di muka persidangan saya tidak mengaku sebagai ahli tafsir, melainkan fiqih dan ushul al-fiqh. Suatu ilmu yang sudah sejak lama saya tekuni dan saya ajarkan kepada para penuntut ilmu. Namun, itu bukan berarti saya buta dan tidak mengerti sama sekali dengan kitab-kitab tafsir. Alhamdulillah, saya dianugerahi oleh Allah kenikmatan besar untuk mampu membaca dan memahami dengan baik berbagai referensi agama seperti kitab-kitab tafsir berbahasa Arab, bukan dari buku-buku terjemahan. Semua itu adalah karena barakah dan sebab doa dari orang tua dan para kyai saya di berbagai pondok pesantren.

Saat saya ditanya tentang pendidikan terakhir saya oleh ketua majelis hakim, saya menjawab bahwa pendidikan formal terakhir saya adalah Strata 2 konsentrasi Syari'ah. Saya memang belum bergelar Doktor, meski saya pernah kuliah hingga semester 3 di program S-3 dan tinggal menyusun disertasi namun sengaja tidak saya selesaikan. Jika ada yang menyebut saya Doktor saya jujur dengan mengklarifikasinya, sebagaimana saat orang menyebut saya haji, karena benar saya belum haji. Bagaimana saya mampu berhaji, saya miskin dan banyak orang yang tahu bahwa bahwa saya sekeluarga hidup sederhana di rumah kontrakan yang sempit. Namun sungguh saya tidak bermaksud melakukan pembohongan publik. Saya yakin sepenuhnya bahwa penguasaan ilmu dan kemuliaan itu adalah diberikan oleh Allah kepada para hamba yang dikehendaki-Nya dan karenanya saya tidak pernah merendahkan siapa saja. Titel kesarjanaan, gelar panggilan kyai haji, dan pangkat bagi saya bukanlah segalanya. Saya berusaha menghormati siapa saja yang menjaga kehormatannya. Bagi saya berbeda pendapat adalah biasa dan wajar saja dan karenanya saya tetap menaruh hormat kepada siapa saja yang berbeda dari saya, terutama kepada orang yang lebih tua, lebih-lebih kepada para kyai sepuh.

Dalam persidangan ke-15 itu tentulah saya menjawab dengan benar, jujur, tanpa sedikitpun kebohongan, di bawah sumpah semua pertanyaan yang diajukan, baik oleh Majelis Hakim, para Penasehat Hukum, maupun para para Jaksa Penuntut Umum (JPU). Apabila para saksi, baik saksi fakta maupun saksi ahli, yang diajukan JPU lebih bersifat memberatkan terdakwa karena yakin akan kesalahannya, maka saya sebagai saksi ahli agama yang diajukan oleh para Penasehat Hukum bersifat meringankannya, selanjutnya nanti majelis hakimlah yang akan memutuskannya. Kesaksian itu saya berikan berdasarkan ilmu, sama sekali bukan karena dorongan hawa nafsu seperti karena ingin popularitas, karena uang dan atau keuntungan duniawi lainnya. Sungguh tidaklah adil dan bertentangan dengan konstitusi jika saya disesalkan, dilarang, dimaki-maki, diancam dan bahkan difitnah karena kesaksian saya itu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Sangat disesalkan bahwa gelombang fitnah dan teror telah menimpa saya, terutama di media sosial yang kebanyakan ditulis dan dikomentari tanpa tabayyun. Berita yang beredar tentang diri saya dari sisi-sisi yang tidak benar langsung dipercaya dan segera terburu-buru disebarluaskan. Di antaranya berita bahwa saya menyatakan bahwa Qs. al-Maidah ayat 51 tidak berlaku lagi, tidak relevan, atau expaired. Berita itu berita bohong (hoax). Yang benar adalah bahwa saya mengatakan bahwa konteks ayat tersebut dilihat dari sabab an-nuzulnya terkait larangan bagi orang beriman agar tidak berteman setia dengan orang Yahudi dan Nasrani karena mereka memusuhi Nabi, para sahabatnya, dan mengingkari ajarannya. Ayat tersebut pada masa itu tidak ada kaitannya dengan pemilihan pemimpin, apalagi pemilihan gubernur. Adapun kini terkait pilihan politik ada kebebasan memilih, dan jika berbeda hendaklah saling menghormati dan tidak perlu memaksakan pendapat dan tidak usah saling menghujat. Kata " awliya' " yang disebut dua kali dalam ayat tersebut jelas terkategori musytarak, memiliki banyak arti/makna, sehingga tidak monotafsir, tetapi multi tafsir. Pernyataan saya tersebut saya kemukakan setelah meriset dengan cermat sekitar 30 kitab tafsir, dari yang paling klasik hingga yang paling kontemporer.

Saya sangat mendambakan dan mencintai keadilan. Oleh sebab itu, setiap ada berita penting menyangkut siapa saja, baik muslim maupun non muslim, lebih-lebih jika menyangkut masa depan dan menentukan baik-buruk nasibnya, maka jangan tergesa-gesa di percaya. Untuk menilai secara adil dan menghindarkan kezaliman menimpa siapa pun maka berita itu harus diteliti benar tidaknya dengan hati-hati, wajib dilakukan tabayyun (klarifikasi) kepada pelakunya atau ditanyakan kepada warga di tempat kejadian perkara.

Dalam hal terkait pak BTP (Ahok) saya tahu bahwa dalam mengeluarkan sikap keagamaan yang menghebohkan itu MUI Pusat tidak melakukan tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu, baik terutama kepada pak BTP (Ahok) maupun langsung kepada sebagian penduduk kepulauan Seribu, karena MUI Pusat merasa yakin dengan mencukupkan diri dengan hanya menonton video terkait dan memutuskan Ahok bersalah menistakan al-Qur'an dan Ulama. Padahal dalam al-Qur'an diperintahkan agar umat Islam bersikap adil dan sebaliknya dilarang zalim, kepada siapa saja meskipun terhadap orang yang dibenci. Maka janganlah berlebihan dalam hal apa saja, termasuk jangan membenci berlebihan hingga hilang rasa keadilan.

Bila kemudian saya menyatakan pendapat yang berbeda dengan Ketua Umum MUI (KH. Ma'ruf Amin) sebagai saksi fakta dan Wakil Rais Aam PBNU (KH. Miftahul Akhyar) sebagai saksi ahli agama di sidang pengadilan itu, maka itu hal biasa, wajar, dan hal yang lazim saja. Bagi saya berbeda pendapat itu tidak menafikan penghormatan saya kepada dua kyai besar tersebut. Dalam hal yang didasari oleh ilmu, bukan hawa nafsu, berbeda itu biasa dan merupakan sesuatu yang berbeda dari persoalan penghormatan. Sebagai muslim saya terus memerangi nafsu untuk bersikap tawadlu' (rendah hati) sepanjang hayat.

Terhadap setiap pujian kepada saya, saya tidak bangga dan saya kembalikan kepada pemilik semua pujian yang sesungguhnya, Allah ta'ala. Sebaliknya, terhadap caci maki, celaan, fitnah dan apa saja yang menyakiti hati saya tidak kecewa dan tidak takut, karena saya menyadari keberadaan para pencaci di dunia yang sementara ini. Saya harus berani menyampaikan apa yang menurut ilmu benar. Rasanya percuma hidup sekali tanpa keberanian, dan menjadi pengecut. Kebenaran wajib disampaikan, betapa pun pahitnya.

Hanya kepada Allah saya mohon petunjuk dan perlindungan. Semoga kita dijauhkan dari kezaliman, kejahatan syetan (jenis manusia dan jin), dan dijauhkan dari memperturutkan hawa nafsu.

- Jamaah Pengajian Jaktim Dukung Ahok-Djarot, 'Kami tidak Takut dengan Intimidasi Murahan'

- Pendukung Ahok Ditusuk di Masjid, Aktivis 98 Datangi Bareskrim

- Kisah Pilu Edward Soeryadjaya yang Sekolahkan Sandiaga ke Amerika Kini Harus Berurusan Hukum dengan Sandiaga

Canda Luhut: Jangan Suruh Presiden Naik Esemka, Nanti Remnya Blong

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon mengusulkan agar mobil kepresidenan diganti dengan Esemka. Hal ini, kata dia, dilakukan untuk mengganti mobil kepresiden yang pada pekan lalu mogok saat dipakai Presiden Jokowi.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa untuk jadi mobil kepresidenan ada standar tertentu yang harus dipenuhi. Standar itu tak hanya berlaku di Indonesia namun berlaku universal di semua negara di dunia.

"Kalau mobil kepresidenannya itu ada standard yang harus dipenuhi. Di mana-mana itu universal. jadi bukan hanya Indonesia," kata Luhut kepada wartawan di kantornya Gedung BPPT, jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (24/3/2017).

Menurut Luhut, mobil kepresidenan harus bisa memberikan keamanan kepada Presiden sampai pada titik tertentu. Sehingga standar dan syarat untuk jadi sebuah mobil kepresidenan tak bisa dinegosiasi.

"Jadi itu ada SOP di Paspampres, yang kalau itu tidak dilakukan dengan anu, Paspampresnya yang akan kena," kata dia.

Lalu bisakah Esemka jadi mobil kepresidenan?

"Jadi kalau itu Esemka kamu aja yang naik, jangan kita suruh presiden yang naik, ha..ha..ha. Nanti tahu-tahu presidennya, gara-gara Esemka repot lagi tuh. Remnya blong lagi," kata Luhut sambil tersenyum.

Namun, kata Luhut, hal itu bukan berarti tak ada peluang Esemka jadi mobil kepresidenan, Menurut dia, mungkin saja 20 tahun lagi Esemka sudah bagus dan memenuhi standar serta syarat sebagai mobil kepresidenan.

"Tapi menurut saya, mungkin 20 tahun lagi Esemka sudah bagus, kenapa tidak? bisa saja. Tapi kalau sekarang menurut saya belum," tutur Luhut.
(erd/van)

Murid Sekolah Dasar Mendapatkan Surat Kaleng Karena Dukung Ahok, Isinya Mengejutkan

Seorang pengguna media sosial berkeluh kesah mengenai anaknya yang mendapatkan banyak surat kaleng dari teman-temannya. dalam akun media sosial facebooknya yang bernama Kika syafii, ia mengunggah beberapa foto dari surat kaleng tersebut, serta menuliskan beberapa tulisan yang terdapat dari surat kaleng tersebut

berikut keluhannya

Anakku dapat surat kaleng. Isinya begini:


Untuk Alia
Bukan nyinggung, harus ngerti.

1. Alia kamu itu isbomuka = islam bodoh munafik kafir
2. Kamu kan bela Ahok sama aja kamu hina al qur'an
3. Kamu itu munafik,

Munafik = 
1. tidak taat pada allah
2. Kamu kelihatannya seperti kristen
3. Sering bohong untuk dibela
4. Kamu kalau dikasih jalan lurus malah belok
5. Gak tahu diri
6. Baca al quran sana

4. Sengsara lo di akhirat! Gaga gugu didepan allah nanti masuk neraka, kagak didoain masuk syurga!

Solat deh yang bener, zikir!!

----ll

Surat ini entah dari siapa, sedih bacanya dan sangat menyedihkan. Kebencian ditanamkan sejak dini. Tidak bisakah dipahami bahwa semua ini sekedar politik untuk sebuah daerah?

Sekali lagi, ini hanya politik. Politik merupakan salah satu jalan untuk membangun bersama-sama dengan cara mengedepankan hasil-hasil tertentu yang sudah disepakati sesuai aturan. Terlalu besar ruginya jika harus mengorbankan keberagaman dan persatuan.

Politik sangatlah dinamis, sangat dinamis. Di Jakarta menggeliat kalimat "muslim tolak pemimpin non muslim". Di daerah Maluku sana, sebuah kabupaten dengan 98% penduduk muslim, seorang non muslim berhasil duduk jadi kepala daerah yang bahkan didukung oleh partai yang sama dengan partai yang selalu teriak tolak pemimpin non muslim di Jakarta.

Saya selalu mengatakan pada anakku, bahwa segala urusan yang kamu belum waktunya untuk tahu, maka sebaiknya tidak ikut bicara. Saya ulang kalimat itu untuk meyakinkan diri apa sebenarnya yang terjadi, sampai ada surat seperti itu.

"Selama ini kakak hanya menolak untuk membenci, itu saja kok Pi", kata Kakak Pertama.

Kami sering mendiskusikan Ahok hanya karena hasil kerjanya yang benar-benar kami rasakan. Seperti contoh kecil, membuat KTP atau surat domisili, hanya 5 menit dan tanpa pungli sama sekali.

Saya tekankan pada anak-anak untuk memahami dan mengerti hasil kerja orang. Suka atau tidak suka terhadap orang tersebut, kita harus belajar jujur untuk menilai hasil kerjanya.

Masalah agama termasuk neraka dan surga, selalu saya katakan bahwa itu urusan Allah SWT. Itu hak penuh dari Gusti Allah, tak ada satupun manusia punya hak mewakilinya.

Kita dilahirkan di dunia ini hanya untuk memperbaiki diri, berbuat baik dan berbuat baik. Karena Nabi Muhammad sendiri diturunkan untuk memperbaiki Akhlak manusia, bukan mengislamkan manusia.

Bagi Allah tidak ada sesuatu yang muskil untuk dilakukan. Membuat seisi dunia jadi orang Arab dan beragama islam, bisa dalam sekejap mata.

"Nak, pahamilah bahwa di dunia ini rahasia Allah tak terbatas. Sangat tidak terbatas dan tidak punya batas. Tugas kita yang bodoh ini untuk terus belajar, jangan pernah berhenti untuk terus merasa bodoh", sembari aku peluk Kakak Pertama yang kelihatan menahan emosi.

Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita terpercaya yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih :)

Populer